jump to navigation

Keunggulan dan Kelebihan SMK September 27, 2008

Posted by smkn1blo in Tak Berkategori.
comments closed

Sekolah Kejuruan Bukan
Pabrik Kuli
Oleh Agus Wibowo
 

Jumat, 1 Agustus 2008

 

Pemerintah sebagai pemegang kebijakan (policy maker) perlu segera membenahi sistem pendidikan SMK. Landasan filosofis harus dibuat dengan saksama.

Pada musim penerimaan siswa baru (PSB) tahun ini, sekolah menengah kejuruan (SMK) kebanjiran peminat. Di Yogyakarta, misalnya, dari 14 SMK negeri dan swasta yang membuka PSB online, telah dipenuhi pendaftar. Misalnya di SMK Negeri 6, tercatat 548 pendaftar dari 468 kursi yang tersedia. Padahal, pada PSB tahun lalu hanya tercatat 500 pendaftar (SK, 7/7/2008).

Di Kota Bandung, berdasarkan rekapitulasi PSB online yang dilakukan dinas pendidikan setempat, tercatat sebanyak 1.118 pendaftar, dari 360 kuota yang disediakan. Jika ditotal secara keseluruhan, pendaftar mencapai 11.066 dari 15 SMK yang ambil bagian. Jumlah itu melebihi tahun sebelumnya yang hanya 777 orang.

Sebaliknya, kondisi memprihatinkan dialami sekolah menengah nonkejuruan (SMA/MA). Hingga akhir masa PSB, sekolah-sekolah ini masih kekurangan murid. Di Bandung, misalnya, lantaran kekurangan siswa, pemkab setempat menggratiskan lebih dari 50 SMP swasta dan 29 SMA swasta. Sekolah yang digratiskan ini rata-rata hanya memiliki siswa di bawah 100 orang atau dua rombongan belajar. Adapun plafon bantuan biaya pendidikan yang dikeluarkan adalah Rp 570.000 per tahun per siswa untuk SMP dan Rp 1,2 juta untuk SMA.

Kondisi serupa juga terjadi di beberapa daerah seperti Tegal, Magelang, Yogyakarta dan sebagainya. Di Tegal misalnya, pihak sekolah sampai harus melakukan berbagai cara untuk mendapatkan tambahan siswa, seperti memperpanjang waktu penerimaan siswa baru dan melakukan jemput bola ke rumah calon siswa.

Melonjaknya jumlah peminat, di satu sisi menunjukkan keberhasilan promosi yang dilakukan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), khususnya melalui Dirjen Dikdasmen. Di sisi lain, fenomena itu menunjukkan adanya kecenderungan pragmatis masyarakat memilih SMK. Ini tidak lepas dari peran SMK yang mampu mencetak tenaga terampil dan mengurangi masalah pelik pengangguran.

Kelebihan SMK yang lain, tulis Joko Sutrisno (2008), mampu menyiapkan peserta didik yang kreatif, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki kompetensi yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja.

Bahkan, hasil sebuah survei menunjukkan bahwa di kota-kota di mana populasi SMK lebih tinggi dari SMA, maka daerah tersebut memiliki pertumbuhan ekonomi dan produk domestik regional bruto yang lebih tinggi. Wajar, jika pemerintah pada tahun ajaran 2008/2009 menargetkan 1,3 juta siswa lulusan SMP mendaftar SMK secara nasional, guna mencapai pertumbuhan angka partisipasi kasar (APK) SMK 62,5 persen, sebagaimana ditetapkan dalam Renstra Depdiknas. Selain itu, pemerintah berencana terus memperbanyak pembangunan SMK, serta mengurangi pengembangan sekolah menengah atas (SMA). Diharapkan tahun 2009 rasio perbandingan antara SMK dan SMA menjadi 70 berbanding 30 (Fasli Jalal, 2008).

Anggapan bahwa semua SMK bermutu dan menghasilkan lulusan yang siap diterima dunia kerja tidak selamanya tepat. Sebagai gambaran, di Jawa Timur, lulusan SMK baru 45 persen yang terserap dunia kerja, selebihnya (55 persen) masih menjadi pengangguran. Selain itu, banyak perusahaan dan industri yang mengeluhkan sulitnya mendapat teknisi tingkat menengah sesuai standar. Padahal, peluang kerja terbuka di dalam dan luar negeri, yang tidak terpenuhi karena lulusan yang ada belum mencapai kompetensi yang dibutuhkan.

Problem ketidakterkaitan (mismatch) antara SMK dan dunia usaha atau dunia industri, disebabkan beberapa hal. Pertama, tidak semua SMK mencetak lulusan yang adaptif dengan dunia kerja. Hal ini disebabkan ketidaktersediaan fasilitas bengkel atau laboratorium kerja yang layak dan modern, serta membangun kerja sama yang kuat dengan dunia kerja.

Kedua, dari aspek tenaga pengajar, banyak guru SMK yang ketinggalan dalam meng-update keahlian agar sesuai dengan perkembangan zaman. Akibatnya, banyak pendidikan di SMK yang dijalankan secara asal-asalan yang muaranya hanya menghasilkan lulusan tanpa kompetensi memadai.

Ketiga, program-program yang ditawarkan SMK saat ini belum efektif dan efisien. Ini dapat dilihat dari kualitas lulusan yang belum mampu menjawab tantangan dunia industri. Dengan kata lain, belum ada kesesuaian antara SMK dan industri. Ketika lulusan SMK masuk dunia kerja, ternyata teknologi industri sudah berkembang pesat.

Seperti yang dialami siswa-siswa di SMK Jurusan Nautika Perikanan Laut (NPL), Kabupaten Malang. Sebenarnya, proses belajar mengajar (PBM) di SMK itu sesuai dengan jurusannya, yaitu NPL. Dimulai dari tingkat II, para siswa sudah berbulan-bulan lamanya mengikuti praktik kerja lapangan (PKL) di laut. Konsekuensinya, proses belajar mengajar dengan mata pelajaran yang di-UN-kan tidak banyak dipelajari, bahkan hampir tidak punya kesempatan dibandingkan dengan SMA biasa. Akibatnya, siswa-siswa berbakat dan sudah mengantongi beberapa sertifikasi kecakapan melaut, bahkan sudah diterima magang di Jepang, terpaksa tidak lulus UN.

Tampaknya tidak ada pilihan bagi SMK, selain berbenah diri. Menurut Wardiman Djojonegoro (2007), langkah utama adalah mengubah orientasi dan paradigma pendidikan. Jika selama ini tujuan pendidikan di SMK hanya mengejar ijazah, kini harus diganti mengejar kompetensi. Konsekuensinya, sekolah harus paham standar dunia kerja, dan harus membangun kerja sama yang baik dengan banyak pihak, terutama dunia industri dalam arti luas. Selain itu, sekolah membutuhkan sistem pembelajaran yang tidak berjarak dengan dunia kerja dan masyarakat yang selalu berkembang dinamis.

Pemerintah sebagai pemegang kebijakan (policy maker) perlu segera membenahi sistem pendidikan SMK. Landasan filosofis harus dibuat dengan saksama. Jangan sampai pendidikan SMK, meminjam istilah Henry A Giroux (1993), menjadi hamba pabrik/industri. Institusi pendidikan model demikian, lanjut Giroux, akan gagal melihat kemungkinan bahwa proses pembelajaran merupakan pilar utama humanisasi anak didik. Karena, dimensi personal seperti sopan santun, akhlak mulia, dan jiwa nasionalisme dikebiri habis-habisan. Maka yang terjadi adalah degradasi identitas, dari institusi yang menyelenggarakan pendidikan bangsa menjadi pabrik kuli semata.***

Penulis adalah peneliti utama FKPP Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

suara merdeka.com

 

Potensi SMK Mulai Dilirik September 27, 2008

Posted by smkn1blo in Tak Berkategori.
add a comment

ESTER LINCE NAPITULU

Kepiawaian siswa sekolah menengah kejuruan atau SMK bidang tata kecantikan menyulap para model, antara lain dengan potongan rambut trendi dan dandanan body painting yang mencolok, mampu menyedot perhatian masyarakat di arena exhibition hall, Celebes Convention Center, Makassar, pekan lalu.

Kelihaian siswa yang berkompetisi dalam Lomba Keterampilan Siswa SMK Tingkat Nasional 2008 melakukan kerja, bak penata rambut dan perias profesional itu, hanyalah sebagian kecil dari kompetensi spesifik yang bisa dipelajari di SMK.

Keahlian itu bisa didapatkan sembari siswa menyelesaikan pendidikan menengah di SMK jurusan tata kecantikan, dengan pilihan kompetensi tata rambut dan tata kulit. Mereka yang berminat mengembangkan diri di bidang kecantikan sudah ada saluran dalam pendidikan formal.

Akan tetapi, yang sering terjadi, siswa justru lebih memilih pendidikan di SMA. Setelah tamat, mereka melanjutkan kursus kecantikan yang ditawarkan salon-salon ternama bagi para lulusan SMA yang belum bekerja.

”Dari dulu saya senang bidang kecantikan. Saya tahu di SMK ada sekolahnya, ya saya milih ini. Setelah lulus bisa langsung kerja. Ada rencana melanjutkan pendidikan untuk lebih memperdalam keahlian,” tutur Fitri Widianti (18), siswa SMKN 2 Baturaja, Sumatera Selatan, yang ikut lomba tata rambut.

Selama pendidikan, Fitri sudah tidak asing dengan salon-salon yang menjalin kerja sama dengan sekolahnya. Dengan kreativitasnya, Fitri rajin ikut lomba. Alhasil, gadis yang baru lulus ini sudah kebanjiran tawaran kerja.

”Tinggal ditimbang-timbang mana yang baik. Untuk buka salon sendiri juga sebenarnya bisa karena sudah pernah diajari praktik bisnis salon sendiri. Tetapi, masih bingung nih mau milih yang mana,” ujar Fitri.

Di tengah SMK yang sedang naik daun pada tingkat pendidikan menengah di Indonesia, harus diakui, belum semua SMK mampu menyiapkan lulusan yang adaptif dengan dunia kerja. Perusahaan-perusahaan dan industri mengeluhkan sulitnya mendapat teknisi tingkat menengah sesuai standar. Padahal, peluang kerja terbuka di dalam dan luar negeri, yang tidak terpenuhi karena lulusan yang ada belum mampu mencapai kompetensi yang dibutuhkan.

Kenyataan menunjukkan tingginya ketimpangan kualitas pendidikan di Indonesia, termasuk di SMK. Tidak semua SMK benar- benar mampu menyediakan bengkel atau laboratorium kerja yang layak dan modern atau membangun kerja sama kuat dengan dunia kerja.

Guru-guru SMK juga seringkali ketinggalan dalam meng-update keahlian agar sesuai dengan perkembangan zaman. Banyak pendidikan SMK dijalankan asal- asalan yang akhirnya hanya menghasilkan lulusan tanpa kompetensi memadai.

Fokus kompetensi

Dengan penyiapan kompetensi yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja, ditambah kreativitas dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, potensi SMK untuk menghasilkan teknisi tingkat menengah dengan bidang spesifik sebenarnya mulai dilirik masyarakat dan industri. Wacana membuat SMK mampu mendukung industri manufaktur dan jasa serta perkantoran dijawab dengan mulai dibenahinya kualitas dan jumlah SMK.

Dalam Lomba Keterampilan Siswa SMK ke-16 ini, dilombakan 50 bidang kompetensi. Sebanyak 38 kompetensi memenuhi standar internasional dan sisanya berstandar nasional.

Potensi keahlian SMK sangat beragam. Di bidang teknologi informasi dan komunikasi, antara lain, ada aplikasi software, desain web, animasi, dan teknologi informasi pendukung jaringan; di bidang pertanian ada teknologi pengolahan pascapanen dan agronomi atau produksi tanaman, peternakan, dan perikanan; di bidang kerajinan ada pembuatan keramik, perhiasan, kerajinan kulit, dan kerajinan kayu; dan di bidang bisnis manajemen ada akuntansi, pemasaran, industri pariwisata, pekerja sosial, dan restoran.

Wardiman Djojonegoro, mantan Mendiknas yang dikenal dengan konsep pendidikan link and match, menilai, kebijakan pemerintah mendorong tumbuhnya SMK sudah tepat. ”Pendidikan di SMK yang berorientasi ijazah harus diubah mengejar kompetensi. Maka, sekolah perlu tahu standar luar. Artinya, sekolah harus membangun kerja sama dengan banyak pihak lain, terutama industri dalam arti luas,” ujarnya.

Pendidikan yang mampu menghasilkan tenaga terampil tingkat menengah itu butuh layanan pembelajaran yang tidak berjarak dengan dunia kerja yang sedang berkembang di masyarakat. Lulusannya harus siap berkompetisi secara global.

”Pemerintah juga punya tanggung jawab untuk terus meluaskan lapangan kerja sehingga lulusan SMK ini bisa terserap dunia kerja,” tutur Wardiman. ><

Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengatakan, pada 2015 ditargetkan SMK mencapai 70 persen. Jika ini tercapai, percepatan pertumbuhan sumber daya manusia (SDM) tingkat menengah yang siap kerja, cerdas, dan kompetitif akan mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi. Terobosan untuk meningkatkan mutu SMK agar menghasilkan lulusan berdaya saing tinggi dan memiliki relevansi dengan dunia kerja harus terus dilakukan untuk meraih kepercayaan masyarakat pada SMK yang selama ini dipandang sebelah mata.

Direktur Pembinaan SMK Depdiknas Joko Sutrisno mengatakan, pembenahan SMK ini perlu didukung peningkatan pengetahuan ilmu-ilmu dasar. ”Siswa SMK sering dinilai lemah dalam pengetahuan. Ini perlu diperbaiki. Meski orientasinya menyiapkan lulusan siap kerja, kita juga mesti membuat mereka bisa masuk perguruan tinggi,” katanya.

Dalam pandangan Ari Setiawan, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Mesin Perkakas Indonesia, pendidikan menengah kejuruan yang sedang berkembang bisa dimanfaatkan untuk mendukung tumbuhnya industri di dalam negeri. Pengembangan SMK perlu diarahkan untuk bisa memiliki unit produksi yang mampu menghasilkan produk sesuai standar industri.

Kebijakan memajukan SMK juga butuh sinergi antardepartemen. Tak bisa lagi seperti selama ini, pendidikan selalu berjarak dengan kebutuhan masyarakat dan negara yang berakibat dunia pendidikan menghasilkan SDM yang tidak relevan dengan kondisi di luar sekolah. ”Industri sekarang sudah mulai menyadari potensi dari SMK,” kata Ari.

Christianto Lopulisa, dosen Universitas Hasanuddin, mengingatkan agar pengembangan SMK mampu menghidupkan kekuatan industri pertanian di dalam negeri. Dengan mengembangkan SMK yang mampu membangun budaya wirausaha pertanian, peluang ekonomi bidang pertanian yang mencapai Rp 1.125 triliun bisa bermanfaat untuk ekonomi bangsa.

Pengembangan SMK yang gencar dilakukan pemerintah diharapkan bisa membuka masa depan yang lebih baik bagi masyarakat. Kuncinya, komitmen pemerintah menyediakan pendidikan kejuruan yang berkualitas dan sejalan dengan pengembangan kehidupan negara. (ELN).Kompas.com

 

Cara Menginstal OS September 16, 2008

Posted by smkn1blo in Tak Berkategori.
add a comment

Under Contraction

3.000 Lowongan Pekerjaan untuk Lulusan SMK September 16, 2008

Posted by smkn1blo in SMKN1 Info.
add a comment

Jakarta, Kamis (28 Agustus 2008) — Sebanyak 3.000 lowongan pekerjaan tersedia untuk lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pada The 2nd Indonesia Job Matching Expo 2008 yang berlangsung di Plaza Depdiknas, Jakarta pada 28 – 29 Agustus 2008. Sedikitnya 47 perusahaan dari berbagai sektor industri menawarkan lowongan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja tingkat menengah. Kegiatan ini diselenggarakan dalam upaya pemberdayaan tamatan SMK untuk mempersiapkan tenaga muda siap kerja menuju persaingan global.
Sampai dengan pukul 10.00 WIB Kamis (28/08/2008) hari ini, sebanyak 435 siswa dan lulusan SMK menyerbu berbagai lowongan yang ada. Beberapa sektor industri yang tersedia diantaranya adalah outsourcing, pendidikan, services, retail, food and beverage (F & B), manufaktur, perbankan, teknologi informasi, distributor, dan agro industri.
Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Mandikdasmen) Depdiknas Suyanto menyampaikan, era perdagangan bebas membawa dampak persaingan yang ketat dalam pengisian lowongan kerja baik di dalam maupun di luar negeri. Tamatan SMK, kata dia, diharapkan mampu meningkatkan daya saing dalam memperebutkan lowongan kerja yang tersedia untuk mengisi kebutuhan nasional maupun internasional. “Kegiatan job matching tamatan SMK sangat terkait dan bahkan merupakan bagian integral dari program strategis pendidikan menengah kejuruan. Untuk itu, perlu dijalin kerjasama yang baik antara SMK dengan dunia usaha atau industri yang terkait,” katanya dalam sambutan acara.
Suyanto mengatakan, tolak ukur yang terakhir adalah bagaimana tamatan SMK mendapatkan pekerjaan, dan juga bagi indusri. Menurut dia, sebaik – baik industri adalah industri yang efisen, produktivitasnya tinggi, dan bisa merekrut tenaga kerja yang the right man on the right place. “Kegiatan job matching ini diharapkan dapat berlanjut di tahun – tahun mendatang dengan melibatkan lebih banyak perusahaan dan merekrut lebih banyak tamatan SMK, serta menjangkau tamatan SMK di provinsi lainnya,” katanya.
Direktur Program dan Pemasaran PT.International Test Center Jenny Lee, selaku wakil panitia penyelenggara menyebutkan, beberapa perusahaan dan lowongan yang tersedia. ABN AMRO Bank, kata dia, memerlukan 30 lulusan SMK untuk posisi consumer finance, sales exhibition officer. PT. Agung Wahana Indonesia memerlukan 48 tenaga untuk receptionist, waiter, kru audio video , housekeeping staff dan banquet. AJN Solusindo memerlukan beberapa tenaga SMK di bagian teknisi NOC, staff administrasi, staff accounting. Selanjutnya, kata dia, PT Alih Daya Indonesia memerlukan sejumlah lulusan SMK untuk menjadi sales channel, field colector, telemarketing, dan sales promotion girl. Adapun PT Asia Bandar Alam memerlukan 30 tenaga untuk beauty advisor dan spa therapist, LSP Telematika memerlukan tenaga web programmer, data administrator dan lecturer asistant, dan Bank NISP akan menerima 15 lulusan SMK untuk diberikan beasiswa dan dididik menjadi teller.
PT. ITC menyediakan lima lowongan pekerjaan antara lain untuk posisi supervisor, proctor, product promotor, finance administration, dan testing support center/call center. Setiap calon karyawan harus memenuhi persyaratan, yang utama adalah memenuhi standar nilai TOEIC berkisar 200 – 605 tergantung posisi yang ditawarkan. “Perusahaan kami juga menerima semua jurusan tidak hanya dari SMK saja,” kata Rizki staff PT. ITC
Rizki menjelaskan, untuk melakukan pendaftaran, para calon karyawan harus melewati beberapa tahapan dimulai dengan mengisi formulir di stand yang tersedia, kemudian mengikuti tes wawancara, dan menunggu pengumuman hasil test.
Intan, siswa kelas 3 Jurusan Perhotelan SMK Paramita I Jakarta mengaku mengetahui acara ini dari guru sekolahnya. Dia tertarik mengajukan lamaran bidang perhotelan. “Saya ingin jadi waiters. Siapa tahu aja kalau sudah lulus nanti aku dipanggil,” katanya.***

Sumber: Pers Depdiknas

Hello SMKN 1 Bulukerto September 4, 2008

Posted by smkn1blo in SMKN1 Info.
1 comment so far

Selamat Datang di Webblog Sekolah Menangah Kejuruan Negeri 1 (SMKN1) Bulukerto…………

Buat Para siswa-siswi smkn 1 bulukerto silakan memasukkan saran, kritik,materi,artikel tentang sekolah kita ke alamat email : mastriesno@gmail.com. Matur nuwun.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.